Yudhisthira with a dog as a chariot from heaven arrives

Kalau kamu baru pertama kali jalan-jalan di Bali, kamu mungkin akan menyadari bahwa selain keindahan alam dan budaya tradisionalnya, ada satu hal lagi yang cukup menarik perhatian: anjing-anjing liar yang berkeliaran di jalanan. Berbeda dengan kebanyakan tempat di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim, mayoritas penduduk Bali beragama Hindu-Bali sehingga keberadaan anjing liar bukanlah sesuatu yang tabu. Namun tahukah kamu, bahwa anjing-anjing itu sebenarnya memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat Bali dan merupakan sebuah ciri khas tersendiri?

Sejak zaman dahulu kala, Bali sudah dipenuhi oleh ribuan anjing yang berkeliaran dengan bebasnya di jalan-jalan. Keberadaan mereka bermanfaat bagi manusia karena dapat mengatasi masalah sampah organik dan pengendalian hama tikus serta mencegah wabah pes. Bahkan, seorang antropolog asal Inggris, Dr. Lawrence Blair, pernah menjuluki Bali sebagai mengenai hal tersebut. Menurutnya, keberadaan anjing liar di Bali merupakan kekayaan yang harus dijaga. Ia juga membandingkan anjing Bali, terutama anjing Kintamani, dengan Australian Dinggo dan Singing Dog (Selandia Baru). Anjing Kintamani memang jenis anjing Bali yang paling terkenal, jenis anjing ini telah diakui olah PERKIN dan memiliki berbagai lomba serta pameran.

Terlepas dari sejarahnya yang erat dengan kehidupan manusia, anjing liar di Bali pada umumnya bukanlah hewan yang mudah akrab dengan manusia. Kamu tidak dianjurkan untuk bersikap sok akrab dengan anjing-anjing liar di Bali, sebab mereka tidak biasa disentuh oleh manusia dan mungkin akan melawan kalau mereka merasa terancam. Hal ini disebabkan sifat mereka yang independen. Mereka memang kadang bergantung pada makanan dari manusia, tetapi mereka dapat bertahan hidup sendiri. Banyak anjing di Bali yang mencari makan dengan mengorek tempat sampah atau mengambil makanan dari kuil.

It's A Bali Dog's Life

Meski begitu, apabila kamu berhasil mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan mereka, anjing Bali dapat menjadi hewan peliharaan yang baik. Mereka juga sangat cocok menjadi anjing penjaga karena mereka sangat setia kepada manusia yang dipercayai dan tidak mudah patuh pada manusia lain. Faktor genetika di dalam diri mereka juga membuat anjing Bali memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan mampu beradaptasi di beragam iklim dan cuaca.

Hubungan antara anjing dan masyarakat di Bali tidak hanya menyangkut kegunaan praktis, tapi juga menyangkut kepercayaan. Dalam mitologi masyarakat Bali, dikisahkan tentang sosok Yudhistira yang pada suatu ketika meninggal dunia bersama saudara, istri, dan anjingnya. Mereka semua melakukan perjalanan menuju surga, tetapi hanya Yudhistira dan anjingnya yang tiba di gerbang surga. Meski sudah diperbolehkan masuk surga, Yudhistira menolak untuk masuk surga bila anjingnya yang setia itu tidak ikut masuk. Dewa Indra menolak permohonan itu dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak layak masuk surga. Yudhistira tetap bersikukuh dengan pendiriannya, hingga akhirnya terungkaplah bahwa anjing tersebut ternyata adalah jelmaan dari Sang Hyang Dharma. Ada yang menafsirkan bahwa anjing dalam kisah tersebut adalah simbol dari karma yang tidak terpisahkan dengan roh.

Meski memiliki hubungan yang erat dengan budaya Bali, keberadaan anjing-anjing liar di Bali bukan tidak pernah mendatangkan masalah, lho. Pada tahun 2008 pernah terjadi wabah rabies di Bali yang membuat pemerintah terpaksa mengeliminasi banyak sekali anjing-anjing liar. Sedikitnya 110 ekor anjing divaksinasi dan 196 ekor lainnya dimusnahkan. Metode penangan ini banyak diprotes para aktivis pencinta satwa karena dinilai ceroboh dan tidak memperhatikan kelestarian satwa. Hal ini sangat disayangkan. Padahal, dengan perencanaan yang baik dan melibatkan semua pihak, keberadaan anjing-anjing di Bali tetap dapat dilestarikan sambil tetap menjaga aspek kesehatan dan keamanannya.

A Happy Bali Dog Puppy

Pepatah mengatakan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Keberadaan anjing di Bali adalah kekayaan yang mesti dihormati dan dilestarikan. Kalau kamu takut anjing atau menghindarinya karena ajaran agamamu, kamu hanya perlu agak berhati-hati saat berkunjung ke sana. Jangan ragu untuk bertanya atau meminta tolong kepada penduduk sekitar. Selamat menghayati Bali dengan utuh dan apa adanya.

Kintamani Dog
I Love Bali Dogs
Myths & Facts About Bali Dogs
Bali Bukan Bali Tanpa Anjing
Bali Street Dog Foundation